Jumat, 21 November 2008

Kinerja Guru untuk Hasil Pendidikan


Guru merupakan salah satu unsur yang dianggap sangat menentukan tinggi rendahnya mutu pendidikan di sekolah. Dalam kebutuhan minimal sarana dan fasilitas pendidikan yang relatif terpenuhi nampak bahwa investasi biaya pendidikan melalui peningkatan kesejahteraan guru lebih mampu meningkatkan mutu daripada melalui penyediaan sarana. Apabila dilihat dari segi pelaku, persoalan mendasar dari mutu pendidikan adalah kesejahteraan guru. Kesejahteraan meliputi aspek material dan nonmaterial. Nonmaterial misalnya kemudahan naik pangkat, suasana kerja yang sejuk dan perlindungan hukum. Adapun yang termasuk kesejahteraan material adalah gaji, tunjangan dan insentif lainnya. Selama ini banyak guru yang mengeluhkan gaji yang terlalu rendah. Hal ini merupakan salah satu alasan kurang optimalnya kinerja guru dalam memberikan suatu pengajaran.
Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi yang sangat strategis dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan tersebut. Kita lihat kinerja guru menurut para ahli diantaranya adalah Kamars (1994:104) dikutip oleh Adnan (1966:1219) menyatakan kinerja guru merupakan terjemahan dari kata performance yang berarti kemauan untuk melakukan suatu pekerjaan. Dapat juga kita lihat dalam kamus Bahasa Indonesia (1995:233) kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan bekerja.
Kita lihat kondisi pendidikan pada hari ini, sangat jauh dari yang kita cita-citakan sebelumnya yaitu pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Betapa banyak siswa yang tidak lulus dari ujian akhir nasional mulai dari siswa yang berada di pusat kota sampai pada siswa yang berada di daerah- daerah. Hal tersebut salah satu penyebabnya adalah kinerja guru yang kurang baik.
Banyak yang perlu menjadi bahan pertimbangan kita pada saat ini, bagaimana kinerja guru akan berdampak pada pendidikan yang lebih bermutu.
Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun untuk kepentingan orang banyak atau bangsa dan negaranya sendiri. Sistem pendidikan nasional pada saat ini sangat memiliki posisi yang sangat lemah dengan terjadinya pembahan kurikulum yang terus-menerus, maka dengan perubahan kurikulum tersebut akan berdampak sekali pada guru itu sendiri dan bisa juga mengakibatkan frustrasi bagi guru yang memiliki kemampuan minimal.
Yang tak habis pikir bagi kita yaitu mengapa kurikulum itu sering bergonta-ganti? Apakah hal tersebut suatu proyek bagi dinas pendidikan atau bagaimana? Hal tersebut tidak bisa kita ketahui secara pasti. Yang jelas hal kata-kata orang pendidikan itu akan meningkatkan pendidikan di negara kita ini. Tetapi sebagaimana yang kita ketahui yaitu sudah banyak terjadi perubahan kurikulum mulai dari awal kemerdekaan sampai pada masa era reformasi ini, tetapi hal tersebut tidak membawa perubahan bagi pendidikan itu sendiri. Apa yang mesti kita lakukan supaya pendidikan di negara kita ini dapat menjadi pendidikan yang bermutu yaitu salah satunya adalah meningkatkan kinerja guru itu sendiri
Dalam pendidikan, guru sangat berperan aktif sekali untuk melancarkan proses belajar-mengajar baik pada jenjang pendidikan formal maupun pada jenjang pendidikan non formal. Seorang guru diharapkan keprofesionalannya untuk memberikan suatu materi pada peserta didik. Profesi itu pada hakikatnya adalah suatu janji seseorang behwa mereka akan mengabdi pada suatu jabatan yang diperolehnya dan merasa terpanggil untuk mengabdi dan akan bertanggungjawab demi terlaksananya proses pendidikan.
Tujuan kinerja guru. Pertama guru memiliki program kerja yang jelas. Seorang guru tersebut harus memiliki program kerja yang jelas supaya dalam proses pendidikan tidak terjadi penyimpangan dalam penyampaian materi yang akan diberikan kepada siswa dan siswa dapat dengan cepat menangkap apa yang disampaikan oleh guru tersebut. Kedua, seorang guru tersebut harus bisa memvariasikan metode pembelajaran, supaya nantinya para siswa tidak menimbulkan rasa bosan dalam proses belajar mengajar. Yang dapat kita
lihat realita hari ini seorang guru itu memberikan pelajaran hanya satu metode saja, dan itu dapat membosankan para siswa dalam kelas. Ketiga, seorang guru harus bisa memberikan motivasi kepada siswanya dalam proses belajar mengajar supaya apa-apa yang disampaikan guru dapat dikerjakan oleh siswa dengan baik. Memberikan motivasi itu sangat berpengaruh pada siswa, karena siswa merasa diperhatikan oleh gurunya sendiri.
Untuk memahami profesi, kita harus mengenali melalui ciri-cirnya, antara lain: memiliki suatu keahlian khusus, merupakan suatu penggilan hidup, memiliki teori-teori yang baku secara universal, mengabdikan diri untuk masyarakat dan bukan untuk diri sendiri, dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi yang aplikatif, memiliki otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya, mempunyai kode etik, mempunyai klien yang jelas, mempunyai organisasi profesi yang kuat, mempunyai hubungan dengan profesi pada bidang-bidang ahlinya. Ciri-ciri tersebut masih general, karena belum dikaitkan dengan bidang keahlian tertentu. Bagi profesi guru berarti ciri-ciri itu lebih spesifik lagi dalam kaitannya dengan tugas-tugas pendidikan dan pengajaran baik di dalam maupun di luar kelas.
Kita yakin bahwa di era globalisasi ini, informasi sangat mudah kita dapatkan, mulai dari informasi yang sering kita dengar maupun informasi yang belum pernah kita dengar itu akan didapat. Hal tersebut dapat diatasi dengan baik jika seorang guru memperhatikannya dengan baik apa yang mesti dilakukannya dalam proses belajar mengajar. Kita yakin dengan diperhatikan kinerja guru, pendidikan di Indonesia dapat setara dengan negara-negara berkembang seperti Jepang yang sudah maju. Kita pernah mendengar pada waktu Jepang dikalahkan oleh Sekutu, orang Jepang tersebut mengatakan berapa orang guru yang tinggal, mereka tidak menanyakan berapa kerugian yang dialaminya. Dari hal tersebut guru sangat berperan sekali untuk melakukan pembangunan di sebuah negara. Jadi yang mesti diperhatikan oleh pemerintah pada saat ini yaitu bagaimana meningkatkan kinerja guru. Jika guru telah sepenuh hati mengabdi pada negara yang kita cintai ini, negara kita akan maju untuk selama-lamanya .

Kamis, 20 November 2008

Potret mahasiswa

Kampus atau universitas kini tidak lebih dari sebuah pabrik pencetak ijazah semata. Pendidikan telah menjadi komoditi. Komodifikasi pendidikan. Bahkan mungkin hampir-hampir tidak ada lagi sisa-sisa pendidikan di kampus.

Yang tersisa hanyalah dosen-dosen bergaji kecil yang ngobjek ke sana ke mari. Mengajar hanya dengan waktu sisa sepulang dari kantor atau memang sengaja membolos dan curi-curi waktu dari kantor untuk mengajar. Kata-kata mereka lebih mirip kaset rusak yang disetel berulang-ulang. Kata-kata yang sama, kalimat yang sama, diulang-ulang dikelas yang berbeda. Membacakan ulang apa yang ditulis di buku-buku. Atau sekedar menceritakan dirinya sendiri di depan kelas. Tidak ada bedanya mengajar dengan beronani jiwa.

Yang tersisa adalah para mahasiswa dan mahasiswi yang berdandan lebih seperti mau ke mall bukannya ke kampus. Belum lagi tingkah laku mereka yang sulit rasanya untuk mengkategorikan mereka sebagai ’yang terpelajar’. Jangan tanya mereka tentang literatur perkuliahan. Tidak ada buku dalam tas. Isinya hanyalah alat make-up, handphone, dan mungkin kondom.

Dan pada nantinya merekalah yang disebut manusia intelek lulusan dari universitas inilah, universitas itulah..padahal semua kosong, ibarat sarang kepompong yang telah di tinggalkan kupu-kupu, sehingga mereka hanya bisa jual tampang bukan jual pengetahuan..dan akibat merekalah segelintir mahasiswa yang benar benar memiliki kemampuan terhambat maju karena nama buruk yang telah tercitra sebelumnya oleh mahasiswa ini.

Ayoo mahasiswa berubahlah...!!!!!ke arah yang lebih baik tentunya....

Post by : abenk ( oto 2001 )

Peluang usaha ada dimana-mana


Tergelitik juga membaca tulisannya salah seorang teman lama, bahwa peluang usaha sebenarnya ada dimana-mana. Dan saya sangat setuju. Coba saja perhatikan barang-barang yang ada disekitar anda, komputer, printer, kertas, meja, handphone dan apa saja yang bisa anda lihat disekeliling anda, sebagian besar merupakan hasil dari transaksi jual beli. Bahkan barang-barang yang melekat pada diri kita sebagian besar juga kita beli atau paling tidak dibelikan orang lain kan?.

Masalahnya, kadang kita terlalu takut sehingga menganggap kalau sebuah peluang sudah diambil orang lain, kita sudah tidak kebagian peluang tadi. Padahal sudah menjadi sunatulloh / sifatnya dunia yang terus berputar, peluangpun terus berputar. Bahkan banyak peluang yang belum optimal dimanfaatkan orang lain.

Misalnya usaha dibidang garment meskipun sudah banyak pelaku usaha di sana tapi tetap terbuka peluang bagi pemula untuk menangkap peluang yang sama dan bahkan menciptakan peluang-peluang baru. Contoh lainnya masih banyak, usaha makanan boleh dibilang setiap saat muncul pemain baru dan banyak yang sukses. Usaha voucher HP juga terus tumbuh bak jamur di musim hujan, dan banyak yang bertahan bahkan berhasil. Inovasi-inovasi baru-pun terus tumbuh, yang berarti masih banyak lagi peluang yang belum tergarap.

Kalau kita masih dalam tahap berpikir-pikir untuk mencari peluang dan belum juga berani memulai usaha, maka kita perlu mempertajan kejelian kita menangkap berbagai peluang. Cara paling gampang adalah meniru usaha orang lain yang menurut kita masih berpotensi untuk dikembangkan. Kita tinggal mengikuti yang sudah ada dan kita modifikasi pada usaha yang kita jalani. Nanti kalau usaha kita sudah jalan, baru kita cari terobosan dan inovasi baru untuk terus berkembang.

Kalau kita masih terus pikir-pikir dulu, maka peluang tetap saja ada dan tentu akan diambil orang lain. Kita nanti hanya akan gigit jari dan bilang, “Yach itu kan persis seperti ide bisnis yang aku pikirkan dulu.”

Cobalah anda cari barang yang tidak bisa dijual, tentu anda akan menemukan barang yang bisa dijual jauh lebih banyak daripada barang yang tidak bisa dijual. Itu berarti banyak peluang dan ada dimana-mana

Semoga bermanfaat Post By : abenk ( oto 2001 )